Minahasa – Sebuah angin segar terhembus di tengah masyarakat Desa Tikela menyusul deklarasi resmi Yusuf Hontong sebagai Bakal Calon Hukum Tua untuk periode 2026–2034. Dengan tagline Visioner & Misioner: Jelas, Tajam, Terpercaya, Pengemban Nurani Rakyat, mantan Wakil Ketua BPD Desa Tikela yang juga dikenal sebagai jurnalis dan pemerhati HAM ini menawarkan kepemimpinan yang tidak hanya mengedepankan pembangunan fisik, tetapi juga keadilan sosial dan ketegasan hukum. “Desa Tikela Adil Sejahtera” menjadi semboyan utama yang ia usung, mengajak seluruh warga membangun kampung halaman berlandaskan kasih dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Selasa (21/4/2026)
Di tengah dinamika politik desa yang kerap diwarnai janji manis sesaat, Yusuf Hontong hadir dengan rekam jejak nyata. Sebagai mantan wartawan yang akrab dengan kondisi lapangan, ia memahami betul denyut nadi masyarakat, mulai dari pelosok hingga pusat desa. Pengalamannya sebagai pemerhati hak asasi manusia membuatnya tak gentar memperjuangkan warga yang selama ini terzolimi, baik dalam sengketa tanah, akses bantuan yang tak merata, maupun perlakuan tidak adil dari oknum. Kini, ia mengajak seluruh elemen desa untuk bersama-sama membangun perubahan.
Salah satu janji kampanye yang paling mengemuka adalah komitmennya membangun bersama masyarakat Desa Tikela berlandaskan KASIH. Bukan sekadar akronim, KASIH diartikan sebagai Keadilan, Amanah, Solidaritas, Integritas, dan Harmoni. Menurut Yusuf, tanpa nilai-nilai tersebut, pembangunan desa hanya akan melahirkan kesenjangan dan persaingan tidak sehat. “Saya ingin setiap warga merasa dirawat, bukan diatur. Dipayungi, bukan ditakuti,” ujarnya dalam jumpa pers yang diselenggarakan di balai desa beberapa waktu lalu.
Dalam sektor infrastruktur, Yusuf menegaskan konsep Pembangunan Fisik Merata tanpa Tebang Pilih. Ia berjanji tidak akan memprioritaskan proyek hanya di sekitar rumah petinggi desa atau kerabat dekat penguasa. Jalan usaha tani, irigasi, penerangan jalan umum, dan fasilitas kesehatan akan dibangun berdasarkan skala prioritas yang ditentukan bersama warga melalui musyawarah dusun. “Tidak ada lagi istilah ‘kita tunggu giliran’ selamanya. Semua dusun punya hak yang sama untuk maju,” tegasnya.
Poin krusial lainnya adalah penjaminan penyaluran bantuan bagi mereka yang layak secara konsisten dan transparan. Yusuf menyoroti banyaknya keluhan warga tentang bantuan yang tidak tepat sasaran, bahkan kadang tersedot oleh praktik pungli atau nepotisme. Ia berkomitmen membentuk tim verifikasi mandiri yang melibatkan tokoh masyarakat, perempuan, dan generasi muda. Setiap proses pendataan hingga pencairan akan diumumkan secara terbuka di papan informasi dan grup-grup komunikasi desa. “Jangan sampai janda tua dan keluarga miskin justru tidak pernah merasa menyentuh bantuan yang sebenarnya untuk mereka,” tambahnya.
Tak kalah penting, Yusuf Hontong mengusung misi Memperjuangkan Kepastian Hukum dan HAM bagi masyarakat yang terzolimi. Latar belakangnya sebagai aktivis HAM memberinya keberanian untuk membuka ruang pengaduan warga yang selama ini takut bersuara. Mulai dari sengketa batas tanah dengan perusahaan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kriminalisasi terhadap warga miskin, ia janjikan pendampingan hukum gratis dan advokasi hingga tuntas. “Saya tidak akan diam melihat saudara-saudara saya dizalimi. Hukum harus hadir untuk rakyat kecil, bukan hanya untuk yang berduit,” ujarnya dengan tegas.
Dengan lambang centang pada seluruh materi kampanyenya, Yusuf mengajak masyarakat untuk tidak lagi golput atau terpecah belah oleh politik uang. “Saya bukan politikus yang datang hanya saat pilkades. Saya lahir dan besar di sini, keseharian saya bersama petani, nelayan, buruh, dan ibu-ibu yang jualan di pasar. Suara rakyat adalah suara saya,” ucapnya dalam sejumlah pertemuan warga. Ia juga menyisipkan pesan khasnya: “Jangan pilih yang paling banyak janji, tapi pilih yang paling konsisten bekerja.”
Menjelang hari pencoblosan, tim relawan Yusuf Hontong mulai bergerak dari rumah ke rumah, membawa pesan utama: Bersama Kita Wujudkan Desa Tikela Adil Sejahtera. Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari perubahan. Dengan segala pengalaman dan integritas yang dimiliki, Yusuf Hontong mengajak seluruh lapisan warga untuk berani melangkah, memilih pemimpin yang benar-benar menjalankan amanah rakyat. Desa Tikela butuh pemimpin yang visioner sekaligus misioner—yang tidak hanya melihat jauh ke depan, tetapi juga turun langsung merawat bangsanya. Kini, saatnya warga bersatu, memastikan suara nurani tidak dikalahkan oleh kepentingan sesaat. (Tim)
.jpg)