Dalam pernyataan yang terekam dalam sebuah video, para tokoh adat menegaskan bahwa adat Melayu mengajarkan jalan musyawarah dan menjaga marwah, bukan merusak.
“Kalau mau menyampaikan pendapat, lakukanlah dengan cara damai. Jangan sampai ada perusakan yang justru merugikan kita semua,” tegas salah seorang petinggi LAM Jambi.
Lebih jauh, LAM mengingatkan bahwa aksi demonstrasi adalah hak setiap warga negara, tetapi tetap harus berpijak pada nilai adat dan hukum yang berlaku. Mereka mengingatkan, tindak anarkis tidak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga mencoreng wajah masyarakat Melayu di mata publik.
Dalam kesempatan itu, petuah adat juga kembali digaungkan:
“Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Kalau marah biarlah reda, kalau bersuara biarlah santun. Jangan sampai bara api padam karena angin kencang.”
Seruan ini menjadi pengingat penting, khususnya bagi generasi muda Melayu Jambi, agar tetap menjaga kehormatan adat dalam menyuarakan aspirasi. LAM menegaskan bahwa menjaga ketertiban adalah bagian dari menjaga identitas dan marwah Melayu itu sendiri.
Dengan sikap ini, LAM Jambi berharap masyarakat bisa menunjukkan bahwa demo damai bukan kelemahan, melainkan cerminan kearifan lokal yang menjunjung tinggi martabat dan persatuan.(Red)
